Minggu, 11 Januari 2009

Terapi Halilintar untuk Penderita Schizophrenia



-->

YOGYAKARTA -- Tujuh calon legislatif dinyatakan tidak lolos tes kesehatan jiwa. Diperkirakan jumlah itu masih akan bertambah. Meski masih dalam taraf ringan, mereka dipastikan menderita gangguan jiwa (schizophrenia) dan antisosial.

Kondisi ini sangat memprihatinkan. Menurut psikolog klinis Universitas Gadjah Mada, Yayi Suryo Prabandari MSi, jumlah penderita schizophrenia seperti gunung es. Banyak penderita yang gejalanya masih tersembunyi, belum termanifes.

Untuk mengungkap lebih jauh seluk-beluk dan pengobatan penyakit itu, Rumah Sakit Kejiwaan Puri Nirmala, Yogyakarta, menyelenggarakan simposium "Blitzkrieg Therapy Melawan 1.000 Schizophrenia dengan Variasinya", di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Sekitar 400 orang peserta simposium memenuhi auditorium hotel itu. Sebagian dari mereka adalah mantan penderita schizophrenia, ada pula yang masih berobat jalan. Tak ketinggalan para orang tua. Mereka saling berbagi pengalaman, untuk merawat anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa.

Gejala positif dan negatif
Sindrom gangguan jiwa ini memiliki dua gejala, yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif ditandai dengan manifestasi florig seperti waham atau halusinasi. "Gejala seperti ini biasanya mendorong penderita untuk dirawat di rumah sakit karena fungsi sosialnya menurun," kata ahli jiwa Prof. Dr. Soejono Prawirohadikusumo, 75 tahun, yang juga penemu metode blitzkrieg alias terapi halilintar.

Penyakit ini biasanya diderita secara kronis dan kambuh-kambuhan, dengan prevalensi seumur hidup satu persen. Sepuluh persen penderita schizophrenia, biasanya berakhir dengan bunuh diri.

Menurut Soejono, penderita Schizophrenia, sering merepotkan perawat dan petugas jaga. Suatu hari, ada seorang pasien yang baru datang, tiba-tiba memberontak. Pemuda itu berusaha melarikan diri dengan membobol eternit kamarnya, namun tidak berhasil kabur.

Setelah mendapat perawatan selama seminggu, pasien itu kembali tenang. "Pada hari keempat, biasanya pasien sudah tenang dan bisa berbincang normal," katanya.

Dijelaskan Soejono, seperti namanya--halilintar--terapi ini tidak membutuhkan waktu lama, maksimal tujuh hari rawat inap.

Hari pertama sampai hari keempat, pasien diberi obat dosis tinggi tiga kali sehari, tidak boleh absen. Selama itu pasien diisolasi, tidak boleh dijenguk.

Tujuannya untuk mengawasi sistem limbik. Selain itu, juga untuk menghilangkan perasaan bisikan-bisikan, bayangan atau ancaman. "Bila pasien mempunyai kecenderungan mengamuk, atau pergi, pasien tidur dalam posisi terikat," ujar ayah empat anak ini.

Selanjutnya, pada hari kelima hingga ketujuh, pasien sudah dalam kondisi normal sehingga bisa dilakukan psikoterapi. Hari berikutnya pasien dibekali satu kali suntikan di pantat dan boleh pulang. Sebulan sekali keluarga pasien harus melaporkan kegiatan pasien.

"Peran pengawasan keluarga dan laporan kegiatan ini sangat penting, agar kami bisa menentukan obat untuk bulan berikutnya. Jadi kesembuhan total pasien tergantung juga dari peran keluarga dan faktor keturunan," kata Soejono.

Metode pengobatan ini dikembangkan Soejono sejak 1989, namun baru diterapkan ke pasien pada 1994. Terapi ini, menurut Soejono, menghantam dua gejala positif maupun negatif secara bersamaan.

Sementara itu, pengobatan yang umum diberikan oleh para dokter maupun rumah sakit, hanya mengobati gejala positifnya saja. "Dengan pengobatan seperti itu pasien memang kelihatan sudah sembuh, padahal dia masih menyimpan gejala negatif," ujar mantan guru besar di UGM ini.

Sejak dimulainya terapi ini, Soejono melakukan pengamatan terhadap pasien-pasiennya. Hasilnya cukup menggembirakan. Dari seluruh pasien yang diobati, 90-95 persen penderita skizofrenia bisa sembuh total.

Diungkapkannya, metode penyembuhan ini tidak rumit dan sangat sederhana. Dia mengandaikan sebuah lagu, dirinya hanya mengaransemen saja. "Obatnya kan sudah ada, jadi saya ini hanya mengaransemen saja," ujarnya.

Menurut Soejono, umumnya gejala positif ini dihubungkan dengan ekses dopamine dalam sistem mesolimbik di otak, yang mengandung serabut-serabut proyeksi dari otak tengah menuju korteks frontal.

Schizophrenia juga sering disebut aktivitas hyperdopaminergic, karena itu pengobatannya harus dapat memblokir aktivitas receptor D2 di sistem mesolimbik otak secara selektif.

Mahal dan jangka panjang
Berdasarkan penelitian Prof. Dr. Aris Sudiyanto, guru besar Fakultas Kedokteran Jiwa Universitas Negeri Surakarta, 71,43 persen pasien schizophrenia yang mendapat pengobatan neuroleptik atipikal dapat mencapai remisi dan hanya 28,57 persen yang masih mempunyai gejala sisa.

Sebaliknya, pasien yang mendapat pengobatan neuroleptik tipikal, 31,67 persen mencapai remisi dan sisanya masih mempunyai gejala sisa.

Dari 112 orang penderita schizophrenia yang diteliti, 17 orang pasien gugur dan sisanya dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pasien yang diberi pengobatan neuroleptik atipikal, pasien diberi clozapine, quetiapine, atau risperidone.

Dalam kelompok pengobatan tipikal, pasien diberi chlorpromazine, trifluoperazine atau haloperidol. "Sayangnya pengobatan neuroleptik atipikal ini mahal sehingga banyak dikeluhkan pasien. Apalagi pengobatan ini untuk jangka panjang," kata Aris.

Menurut Soejono, orang yang menderita skizofrenia memiliki kandungan dopamine yang sangat tinggi sehingga mesolimbik dan mesofrontalnya menumpuk.

Mestinya, mesolimbik (gejala positif) yang tugasnya menerima input dari luar terletak di tengah dalam otak, terpisah dengan mesofrontal (fungsinya mengolah semua informasi dari luar) yang ada di bagian depan (dahi). "Pada waktu pasien datang, lapisan tersebut posisinya gendong-gendongan atau bertumpuk," ujar Soejono.

Dengan metode blitzkrieg, gejala positif dan negatifnya dihantam dengan obat dosis tinggi sehingga lapisan itu bisa kembali ke posisi semula. Penelitian-penelitian membuktikan bahwa sistem serotonergik dapat mempengaruhi pelepasan dopamine dalam sistem nigrostriatal.

Jadi untuk mengantisipasi dopamine, dilakukan blokade total D2 di striatum, antara lain dengan pemberian serotonin 5 HT 2 A antagonis. "Pemberian serotonin ini dapat berpengaruh ganda, yaitu menghilangkan gejala negatif dan mengurangi gejala-gejala samping extrapiramidal (EPS)."

Berdasarkan pengalaman, hambatan yang paling sering timbul ketika keluarga pasien tidak bisa mengerti cara pengobatan yang diterapkan pihak rumah sakit. Terkadang keluarga tidak tega dan ngotot tetap ingin mengunjungi pasien. "Akibatnya, pasien yang semula sudah agak tenang kambuh lagi," kata ayah pakar komunikasi Roy Suryo ini.

Hambatan lain muncul bila pasien juga menderita epilepsi atau intelegensi kurang. "Dengan tempelan penyakit ini, saya tidak bisa menjamin pasien bisa sembuh total, karena aransemen obatnya cukup sulit," kata Soejono yang pada 1977 pernah membuat gebrakan melepas orang-orang yang dipasung.

Kalau penyakit jiwa terberat saja bisa disembuhkan, tentu saja penyakit jiwa yang lebih ringan lebih mudah disembuhkan. ln idayanie/tempo news room

Schizophrenia






Schizophrenia
DEFINISI

Schizoprenia adalah kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan (psikosis), halusinasi, khayalan (kepercayaan yang salah), pikiran yang abnormal dan mengganggu kerja dan fungsi sosial.

Schizophrenia adalah masalah kesehatan umum di seluruh dunia. Kejadian schizophrenia di seluruh dunia adalah kurang dari 1 persen, walaupun angka kejadian bisa lebih tinggi atau lebih rendah yang telah diketahui.

Di Amerika Serikat, orang dengan schizoprenia menempati sekitar seperempat tempat tidur rumah sakit dan tinggal kurang lebih 20 hari.

Schizophrenia lebih sering terjadi daripada penyakit Alzheimer, penyakit gula, atau multiple sklerosis.

Beberapa ciri-ciri kekacauan merupakan bagian dari gejala Schizophrenia. Kekacauan yang menyerupai Schizophrenia, tetapi dengan gejala yang ada kurang dari 6 bulan, hal ini disebut Schizophreniform.

Kekacauan dengan lama kegilaan berakhir sedikitnya 1 hari tetapi kurang dari 1 bulan disebut penyakit psikosis singkat.

Suatu kekacauan ditandai oleh adanya perasaan, seperti depresi atau keranjingan, serta gejala schizophrenia yang lebih khas disebut schizoaffective.

Suatu kekacauan watak yang mungkin mirip dengan gejala Schizophrenia, tetapi dengan gejala umum yang tidak begitu hebat seperti kriteria untuk kegilaan, disebut schizotypal kekacauan watak.

Jenis Schizophrenia

Beberapa peneliti percaya Schizophrenia adalah kekacauan tunggal, sedangkan yang lainnya percaya hal ini adalah sindrom (koleksi gejala) dari banyak sumber penyakit. Jenis Schizophrenia didasarkan pengelompokan pasien dengaan gejala yang sama.Tetapi pada penderita secara individu, jenisnya akan berubah dengan berjalannya waktu.

Schizophrenia paranoid ditandai dengan keasyikan dengan khayalan atau halusinasi pendengaran; berbicara ngawur dan emosi yang aneh menonjol.

Hebephrenic atau Schizophrenia tidak teratur ditandai dengan berbicara ngawur, kelakuan aneh, dan emosi datar yang aneh.

Schizophrenia Catatonic didominasi dengan gejala fisik seperti keadaan tak bergerak, gerak tubuh berlebihan, atau melakukan postur aneh.

Schizophrenia yang tak dapat digolongkan sering ditandai dengan gejala-gejala dari semua kelompok; khayalan dan halusinasi, memikirkan kekacauan dan kelakuan aneh, dan gejala defisit atau negatif.

Baru-baru ini, Schizophrenia sudah diklasifikasikan berdasarkan ada tidaknya dan keparahan gejala negatif atau defisit.

Pada pasien dengan jenis negatif atau defisit schizophrenia, dengan gejala negatif, seperti emosi yang datar, kekurangan motivasi, dan tidak punya tujuan yang menonjol.

Pada penderita dengan non-defisit atau paranoid sizofrenia, khayalan dan halusinasi sangat menonjol, tetapi memiliki relatif sedikit gejala negatif yang terpantau.

Pada umumnya, orang dengan Schizophrenia non-defisit cenderung menjadi tidak parah dan lebih responsif terhadap pengobatan.
PENYEBAB

Meskipun penyebab spesifik Schizophrenia tidak diketahui, kekacauan ini secara jelas mempunyai dasar biologi.

Banyak teori menyetujui model ”vulnerability-stress”, dimana schizophrenia sering terjadi pada orang yang secara biologis lemah. Apa yang membuat orang yang lemah menjadi Schizophrenia belum diketahui tetapi mungkin termasuk kecenderungan genetik; masalah setelah, selama, atau sesudah kelahiran; atau infeksi virus otak.

Kesulitan dalam mengolah informasi, ketidakmampuan untuk memberi perhatian, ketidakmampuan untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima secara sosial, dan ketidakmampuan untuk menanggulangi masalah umum mungkin menunjukkan kelemahan.

Di model ini, tekanan lingkungan, seperti peristiwa kehidupan menegangkan atau bagian masalah mendasar yang salah, menjadi pemicu datangnya dan kambuhnya Schizophrenia pada individu yang lemah.
GEJALA

Penderita Schizophrenia banyak terjadi antara usia 18 dan 25 tahun bagi laki-laki dan antara 26 sampai 45 untuk wanita. Tetapi, datangnya di masa kecil atau awal masa remaja atau di akhir masa hidup adalah jarang terjadi.

Datangnya mungkin mendadak, beberapa hari atau minggu, atau lambat dan tersembunyi, lebih dari bertahun-tahun.

Keparahan dan macam gejala bisa berubah-ubah secara signifikan di antara penderita Schizophrenia.

Secara umum, gejala terbagi dalam tiga kelompok utama; khayalan dan halusinasi; pikiran yang kacau dan tabiat yang aneh; dan dengan gejala yang minim dan negatif.

Orang mungkin mempunyai gejala dari satu atau ketiga kelompok tersebut. Gejala-gejala tersebut bisa cukup parah seperti mengganggu kemampuan untuk bergaul dengan orang lain, dan merawat diri sendiri.

Khayalan adalah kepercayaan palsu yang biasanya meliputi salah tafsir persepsi atau pengalaman. Misalnya, penderita Schizophrenia mungkin mengalami khayalan, percaya bahwa mereka sedang disiksa, diikuti, diperdayakan, atau dimata-matai.Mereka mungkin mempunyai referensi khayalan, percaya bahwa bagian dari buku, koran, atau syair lagu ditujukan secara khusus untuk mereka.

Mereka mungkin mempunyai khayalan pemikiran yang terbalik atau pikiran disisipi, percaya bahwa orang lain bisa membaca pikiran mereka, bahwa pikiran mereka sedang ditransfer ke orang lain, atau bahwa pikiran dan gerak hati mereka sedang dipaksakan pada oleh pihak lain.

Halusinasi baik, penglihatan, bau, rasa, atau sentuhan mungkin terjadi, meskipun halusinasi suara (halusinasi pendengaran) adalah yang sering terjadi.

Penderita mungkin “mendengar” suara yang mengomentari kelakuannya, berbicara dengan satu sama lain, atau membuat komentar kritis dan kasar terhadapnya.

Kekacauan pikiran berkaitan dengan pikiran yang berantakan, yang tampak kalau berbicara bertele-tele, bergeser dari satu topik kepada lainnya, dan kehilangan arah tujuannya. Kemampuan bicara mungkin dengan perlahan menjadi tak teratur atau betul-betul membingungkan dan tak dapat dipahami.

Kelakuan aneh mungkin berubah bentuk menjadi kebodohan kanak-kanak, kegelisahan, atau penampilan, kebersihan, atau berlagak yang tak pantas.


Kelakuan Catatonic motor adalah bentuk ekstrim tingkah laku yang aneh pada penderita dimana penderita berdiam dengan postur kaku dan melawan untuk dipindahkan atau, lebih parah lagi, berdiam diri tanpa maksud dan gerak motornya tak terangsang.

Gejala defisit atau negatif Schizophrenia termasuk tidak terpengaruh, kemunduran ketrampilan berbicara, anhedonia, dan antisosial.

Tidak terpengaruh seperti emosi yang datar. Mimik penderita mungkin tak beremosi; kontak mata buruk dan kesulitan mengekspresikan perasaan. Peristiwa yang umumnya membuat orang tertawa atau menangis tak diresponnya.

Kemunduran ketrampilan berbicara sesuai dengan kemunduran pemikiran yang menyebabkan penurunan keterampilan berbicara. Jawaban terhadap pertanyaan mungkin ketus, satu dua kata, membuat kesan kekosongan dalam.

Anhedonia merujuk pada ketidakmampuan menikmati kesenangan; penderita mungkin kurang tertarik pada hobinya dan melewatkan lebih banyak waktu tanpa tujuan.

Asosial adalah kurangnya ketertarikan untuk berhubungan dengan orang lain.

Gejala-gejala negatif ini sering dihubungkan dengan kehilangan motivasi, pencapaian maksud, dan cita-cita.\


DIAGNOSA

Tidak ada pengujian untuk mendiagnosa Schizophrenia. Seorang psikiater membuat diagnosa berdasarkan penilaian menyeluruh terhadap sejarah dan gejala penderita.

Untuk memperkuat diagnosa Schizophrenia, gejala harus ada sedikitnya 6 bulan dan berhubungan dengan menurunnya kinerja, sekolah, atau fungsi sosial.

Informasi dari keluarga, teman, atau guru sangat penting untuk menentukan kapan mulai sakit. Dokter akan mengesampingkan kemungkinan bahwa gejala kegilaan penderita disebabkan oleh kekacauan perasaan.

Pengujian laboratorium sering dilakukan untuk mengesampingkan penyalahgunaan bahan atau obat, atau kerusakan sistem endokren yang dapat menimbulkan efek psikosis.

Contoh kerusakan seperti tumor otak, ayan cuping temporal, penyakit autoimune, penyakit Huntington’s, penyakit hati, dan reaksi berlawanan dari obat.

Orang dengan Schizophrenia mempunyai otak abnormal yang dapat dilihat melalui alat pemindai tomography (CT scan) atau magnetic resonance imaging(MRI).Tetapi, kekurangannya adalah tak spesifik untuk mendiagnosa sizofrenia pada pasien perseorangan.
PENGOBATAN

Tujuan umum pengobatan adalah mengurangi keparahan gejala kegilaan, mencegah kekambuhan dari masa timbulnya gejala dan hal-hal yang berkaitan dengan kemunduran fungsi, dan memberikan dukungan untuk mencapai taraf hidup yang terbaik.

Obat antipsikosis, aktivitas rehabilitasi dan komunitas pendukung, dan psikoterapi adalah tiga komponen utama dalam pengobatan.

Obat antipsikosis efektif untuk mengurangi dan menghilangkan gejala seperti delusi, halusinasi dan pikiran yang kacau. Setelah gejala akut telah hilang, pemberian obat antipsikosis yang terus menerus untuk menghilangkan gejala secara menyeluruh.

Sayangnya, antipsikosis mempunyai efek samping yang berat seperti sedasi, kekakuan otot, tremor dan berat badan meningkat. Obat ini juga dapat menyebabkan tardive dyskinesia, suatu kekacauan gerakan yang tak disengaja sering ditandai dengan mengerutkan bibir dan lidah atau menulis diatas tangan atau kaki. Tardive dyskinesia tak akan hilang walau obat dihentikan. Jika kasus ini terjadi tak ada pengobatan yang efektif.

Sekitar 75 persen penderita merespon obat antipsikosis utama, seperti chlorpromazine, fluphenazine, haloperidol, atau thioridazine. Setengah lebih dari 25 persen penderita dapat dibantu oleh obat antipsikosis baru clozapine.

Karena clozapine mempunyai efek samping seperti menyerang atau menekan fungsi sumsum tulang. Biasanya obat ini digunakan hanya pada penderita yang tidak berespon terhadap obat antipsikosis lainnya. Penderita yang meminum obat ini harus diperiksa kandungan sel darah putihnya setiap minggu.

Penelitian untuk mencari obat yang tidak mempunyai efek samping yang serius seperti clozapine dilakukan. Risperidone sekarang sudah tersedia.

Psikoterapi adalah aspek pengobatan lain yang penting. Pada umumnya, tujuan psikoterapi adalah untuk membangun hubungan kolaborasi antara pasien, keluarga dan dokter. Dengan demikian diharapkan penderita dapat belajar untuk memahami dan mengontrol penyakitnya, untuk minum obat sesuai resep dan mengatur stres yang dapat memperburuk penyakit.


PENCEGAHAN

Untuk waktu pendek (1 tahun), prognosis Schizophrenia berhubungan erat dengan bagaimana penderita menjalani pengobatan.

Tanpa pengobatan 70 hingga 80 persen penderita yang pernah menderita schizophrenia akan mengalami kekambuhan setelah 2 bulan berikutnya dari masa sakit yang lalu. Pemberian obat yang terus menerus dapat mengurangi tingkat kekambuhan hingga 30 persen.

Untuk jangka panjang, prognosis penderita schizophrenia bervariasi. Pada umumnya, sepertiga penderita mengalami kesembuhan yang berarti dan tetap, sepertiga pendeita mengalami sedikit perbaikan yang diselingi dengan kekambuhan dan sepertiga penderita kondisinya menjadi buruk dan permanen.

Faktor yang mempengaruhi prognosis yang baik meliputi mulai munculnya penyakit yang mendadak, menderita pada usia lanjut, mempunyai tingkat kemampuan yang baik dan berprestasi sebelum sakit, penyakit dengan jenis paranoid atau nondefisit.

Faktor yang mempengaruhi prognosis yang buruk meliputimenderita pada waktu muda, tingkat sosial dan kemampua yang rendah sebelum sakit, dari keluarga penderita schizophrenia, dan penyakit dengan jenis hebeprenic atau defisit.

10 persen kasus bunuh diri ada kaitannya dengan Schizophrenia . Rata-rata, schizophrenia mengurangi masa hidup penderita 10 tahun.
sumber



Sebuah minuman yang didesain khusus dan disebut dengan 'Tyrodep' ternyata sangat efektif digunakan sebagai pengobatan penyakit schizophrenia. Cairan kimia yang ada pada Tyrodep sangat tinggi kandungan asam amino yang berfungsi sebagai pengontrol cairan kimia yang ada pada otak.

Minuman 'Tyrodep' itu merupakan minuman yang didesain oleh para peneliti dari Oxford University dan sejumlah kalangan menyebut hasil penelitian ini merupakan sebuah terobosan penting. Diperkirakan satu juta orang di Inggris terkena schizophrenia dan kebanyakan dari mereka menggunakan obat antipsychotic untuk mengontrol dan mencoba mengobatinya.

Namun disadari bahwa penggunaan obat bisa menjadi penyebab dampak sampingan seperti penyakit Parkinson dan sejumlah gejala seperti rasa sakit dan kesulitan pergerakan secara permen pada mulut dan lidah. Bahkan dampak sampingan itu bisa mengurangi gairah sex. Tidak heran minuman ramuan khusus 'Tyrodep' disambut sangat baik dimana asam amino pada Tyrodep mampu mengurangi tingkat cairan kimia di otak yang disebut dengan `dopamine`.

Terlalu tingginya dopamine pada otak ini disebut-sebut sebagai penyebab sejumlah gejala kondisi maniak yang berujung pada Schizophrenia. Professor Guy Goodwin yang menjadi kepala tim peneliti dari Oxford University ini mengatakan Tyrodep dibuat dengan desain khusus yang bisa digunakan untuk lebih lanjut.

"Secara konvensional Antipsychotic bisa digunakan untuk mengelola penyakit mental seperti mania dan schizophrenia," ujar peneliti yang memperoleh dana penelitiannya dari the Wellcome Trust. "Meski dengan melakukan pengobatan konvensional itu bisa menyebabkan dampak sampingan."

Minuman Tyrodep yang kami kembangkan dan dilakukan dibawah pengawasan medis bisa digunakan untuk terapi lebih lanjut," tambah Guy Goodwin. "Tyrodep mungkin bisa diterima oleh kedua pihak, pasien dan tidak menimbulkan dampak sampingan."

Prof Goodwin mengatakan pengobatan konvensional antipsychotic beraksi untuk merusak produksi dopamine. Namun aksi itu bisa memicu timbulnya cairan kimia lain yang berusaha merusak sistem itu sendiri. Professor Goodwin menambahkan mungkin Tyrodep bisa digunakan dalam terapi Schizophrenia namun ia juga mengatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut agar bisa memberikan rekomendasi yang tepat untuk digunakan oleh pasien.

Marjorie Wallace, chief executive dari The mental health charity Sane optimis minuman Tyrodep bisa menguntungkan banyak penderita Schizophrenia. Kini profesor Goodwin dan para peneliti lainnya dari Oxford Universitu berharap bisa mengembangkan Tyrode secara massal dan menyebarkannya secara luas.

Salah satu timbulnya penyakit Schizophrenia menurut ahli dari Albert Einstein College of Medicine New York adalah kegagalan pada koneksi antar jaringan otak saat penderita masih kanak-kanak dan itu membuat ketidaknormalan seiring dengan makin meningkatnya usia. Bahkan disejumlah kasus schizophrenia tidak menunggu sang penderita sampai beranjak dewasa. (mydoc/tutut)

1 komentar: