Rabu, 12 Juni 2013

Gangguan berfikir Skizofrenia

A.TEORI

1.Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu skizo yang artinya retak atau pecah, dan frenia yang artinya jiwa. Skizofrenia menjelaskan mengenai gangguan jiwa di mana penderita mengalami perpecahan jiwa, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Dengan demikian, seseorang yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (Hawari, 2003). Menurut Strausal et al (dalam Iman Setiadi, 2006) skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan ini di tandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, gangguan kognitif dan persepsi. Sedangkan gejala negatifnya antara lain seperti avolition (menurunnya minat dan dorongan), berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan, afek yang datar, serta terganggunya relasi personal.

Selain dari pengertian di atas Townsend alih bahasa Helena (1998:143), juga mendefenisikan bahwa skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang terdiri dari suatu kelompok sindrom klinis yang dinyatakan dengan kelainan dalam isi dan organisasi pikiran, persepsi masukan sensori, ketegangan afek/emosional, identitas, kemauan, perilaku psikomotor, dan kemampuan untuk menetapkan hubungan interpersonal yang memuaskan.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa skizofrenia adalah terjadinya gangguan kejiwaan, yang ditandai dengan kelainan isi pikiran, terjadinya disharmoni (perpecahan, keretakan) antara proses berfikir, afek/emosi, kemauan dan psikomotor karena halusinasi, persepsi, dan kemampuan untuk menetapkan hubungan interpersonal yang memuaskan dengan gejala yang ditampilkan terutama ketidakmampuan dalam merawat diri sendiri.

2.Ciri – Ciri Skizofrenia

antara lain :

a.Gangguan Delusi
Gangguan delusi disebut juga sebagai disorder of thought content atau the basic characteristic of madness adalah gejala gangguan psikotik penderita skizofrenia yang ditandai gangguan pikiran dan keyakinan. Ciri – ciri klinis dari gangguan delusi yaitu :

1)Keyakinan yang persisten dan berlawanan dengan kenyataan tetapi tidak disertai dengan keberadaan sebenarnya.
2)Terisolasi secara sosial dan bersikap curiga pada orang lain.

Bentuk – bentuk delusi yang berkaitan dengan skizofrenia yaitu :

-Delusions of persecution adalah penderita skizofrenia yang mengalami gangguan psikotik ditandai waham kebesaran, tersohor, sebagai tokoh-tokoh penting atau merasa hebat.

-Cotard’s syndrome (somatic) adalah penderita skizofrenia yang mengalami gangguan psikotik atau ketakuatan yang tidak real. Penderita memiliki waham bahwa kondisi fisiknya sakit atau di bagian-bagian tubuh tertentu rusak. Perasaan bagian tubuh yang terganggu atau sakit secara medis tidak ditemukan.

-Cogras syndrome yaitu penderita skizofrenia yang mengalami gangguan psikotik ditandai adanya waham pengganti yang tidak real terhadap dirinya. Merasa curiga bahwa selain dirinya ada yang sangat sama dengan dirinya.

-Erotomatic adalah keyakinan penderita skizofrenia mencari orang-orang tersohor ataupun pada orang-orang yang dicintainya. Penderita merasa dirinya dicintai.

b.Halusinasi

Adalah gejala gangguan psikotik penderita skizofrenia yang ditandai gangguan persepsi pada berbagai hal yang dianggap dapat dilihat, didengar ataupun adanya perasaan dihina meskipun sebenarnya tidak realitas. Halusinasi bersumber pada otak. Si penderita seolah-olah melihat, mendengar, merasakan sesuatu hal yang sebenarnya tidak terjadi dalam kehidupan nyata dan hanya dalam bayangan si penderita. Bentuk-bentuk halusinasi yang berkaitan dengan penderita skizofrenia yaitu :

1)Halusinasi pendengaran (audiotory hallucination) adalah penderita skizofrenia yang mengalami gangguan psikotik melalui adanya pendengaran terhadap objek suara-suara tertentu. Keadaan ini sering terjadi ketika penderita skizofrenia tidak melakukan aktivitas. Terjadi pada bagian wernicke’s area.

2)Halusinasi pada bagian otak (brain imaging) yaitu gangguan daerah otak terutama bagian broca’s area adalah daerah pada bagian otak yang selalu memberikan halusinasi pada penderita skizofrenia.

c.Disorganisasi
Adalah gangguan psikotik dari penderita skizofrenia yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam mengatur arah bicara, reaksi emosional dan perilaku motoriknya. Bentuk-bentuk dari gangguan pikiran disorganisasi yaitu :

1)Tangentialty adalah ketidakmampuan dari penderita skizofrenia untuk mengikuti arah pembicaraan, topik, dan arah pembicaraan. Pembicaraan penderita ini selalu menyimpang jauh dari setiap arah pembicaraannya.

2)Loose association adalah penderita skizofrenia yang mengalami gangguan dalaam topik pembicaraaan. Topik dan arah pembicaraan penderita skizofrenia ini sama sekali tidak berkaitan dengan apa yang dibicarakan.

3)Derailment adalah pola pembicaraan penderita skizofrenia sama sekali keluar dari alur pembicaraan.

d.Pendataran Afek
Adalah gejala gangguan psikotik dari penderita skizofrenia yang ditandai dengan ketidakmampuannya dalam mengatur antara reaksi emosional dan pola perilaku (inappropriate affect) atau afektif yang tidak sesuai dengan perilaku. Ciri-ciri klinis pendataran afek yaitu: tidak adanya reaksi emosional dalam komunikasi, selalu menatap kosong dalam pandangannya, dan berbicara datar tanpa ada nada pembicaraan.

e.Alogia
Adalah gejala gangguan psikotik dari penderita skizofrenia yang ditandai dengan adanya disefisiensi dalam jumlah atau isi pembicaraan. Adapun ciri-ciri klinis dari penderita alogia yaitu: (1) jawaban yang diberikan penderita singakat atau pendek, (2) cendrung kurang tertarik untuk berbicara, (3) lebih banyak berdiam diri, (4) adanya gangguan pikiran negatif dan berkomunikasi, (5) kesulitan dalam memformulasikan kata.

f.Avolisi
Yaitu gejala gangguan psikotik dari penderita skizofrenia yang ditandai ketidakmampuan memulai ataupun mempertahankan kegiatan-kegiatan penting. Ciri-ciri klinis gangguan avolisi yaitu:
1)Tidak menunjukkan minat pada aktivitas atau fungsi kehidupannya sehari-hari dan tidak berminat merawat kesehatan tubuhnya.
2)Cenderung menjadi pemalas dan kotor.

g.Anhedonia
Yaitu gejala gangguan psikotik dari penderita skizofrenia yang ditandai dengan ketidakadaan perasaan senang, sikap tidak peduli terhadap kegiatan sehari-hari, cendrung tidak suka makan dan ketidakpedulian terhadap hubungan interaksi sosial atau seks.

3.Gejala-Gejala Skizofrenia
Sebelum diganggu halusinasi, bahasa penderita sisofrenik ini tampak terganggu. Pada tahap awal penderita mengisolasi pikirannya. Tidak banyak berkomunikasi dengan dunia luar, tetapi banyak berdialog dengan diri sendiri. Ekspresi verbal terbatas, tetapi kegiatan dalam dunia bahasa internal (berbahasa dalam pikiran sendiri) sangat ramai. Jadi, gangguan tahap awal ini menyerupai mutisme elektif. Pada tahap prahalusinasi gaya bahasa verbalnya sangat berlebihan dan kesulitan menggunakan kosa kata. Pada tahap berikutnya, gangguan ekpresi verbal membuatnya menarik diri dari pergaulan, sehingga ekspresi verbal menjadi terbatas dan jarang.

4.Jenis-Jenis Skizofrenia
Kraepelin membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis

a.Skizofrenia kompleks, gejala utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
b.Skizofrenia bebefrenik, gejala yang menonjol adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.
c.Skizofrenia katatonik, biasanya akut dan didahului oleh stress emosional. Katatonik ini terbagi atas dua macam, yaitu stupor katatonik (penderita tidak menampakkan sama sekali ketertarikannya terhadap lingkungannya) dan gaduh gelisah katatonik (terdapat hiperaktifitas motorik, tetapi tidak disertai emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi rangsangan dari luar).
d.Skyzofrenia paranoid, dengan ciri mempunyai perasaan yang takut akan ancaman dan hukuman.
e.Episoda skizofrenia akut, gejala skizofrenia muncul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Dalam keadaan ini seakan-akan dunia luar dan dirinya sendiri berkabut.
f.Skizofrenia residual gejala yang menyolok adalah gangguan afek atau emosi, gangguan pikiran dan kemauan.
Kartono (1986:259-260) juga menggolongkan skizofrenia ke dalam tiga kategori, yaitu:

1.Skizofrenia Hebefrenik
Artinya mental atau jiwanya menjadi tumpul. Ciri-cirinya:
a.Orang yang mengalami derealisasi dan depersonalisasi berat.
b.Dihinggapi macam-macam ilusi dan delusi, sebab fikirannya kacau, melantur.
c.Banyak tersenyum-senyum sendiri tanpa ada perangsang sedikit pun.

2.Skizofrenia Katatonik.
Ciri-cirinya sebagai berikut:
a.Gangguan psikomotor, seperti adanya stupor, negativisme rigiditas, postur aneh, agitasi, dan mutisme (bisu).
b.Respon motorik tidak lazim dalam bentuk diam dan pada posisi di tempat (waxy flexibelity) atau posisi kegiatan eksesif.
c.Tingkah laku ganjil dengan tubuh dan wajah yang menyeringai (grimering).
d.Sering mengulang atau meniru kata-kata orang lain (echolalia).
e.Senang meniru gerakan oang lain (echopraxia)
f.Catatonic immobility, yaitu gangguan perilaku motorik dimana orang itu tetap diam tanpa bergerak dalam kurun waktu lama dengan postur tubuh yang ganjil.
g.Urat-uratnya menjadi kaku dan mengalami chorea flexibility yaitu badan jadi kaku seperti malam atau was.
h.Ada pola tingkah laku yang stereothypes, aneh-aneh atau gerak-gerak otomatis dan tingkah laku yang aneh-aneh yang tidak terkendalikan oleh kemauan.

3.Skizofrenia Paranoid
Ciri-cirinya yaitu:
a.Penderita diliputi macam-macam delusi dan halusinasi yang terus berganti-ganti coraknya dan tidak teratur serta kacau balau.
b.Pasien tampak lebih waras dan tidak sangat ganjil dan aneh jika dibandingkan dengan penderita skizofrenia jenis lainnya.
c.Akan tetapi pada umumnya dia bersikap sangat bermusuhan terhadap siapapun juga.
d.Merasa dirinya penting.
e.Sering sangat fanatik religious secara berlebihan.

4.Penyebab Skizofrenia
Banyak faktor yang menyebabkan sesorang bisa terkena penyakit skizofrenia. Terkadang hal sepele, tanpa ada kontrol diri dari individu tersebut, bisa menyebabkannya terkena penyakit skizofrenia. Berikut beberapa faktor yang meyebabkan seseorang terkena skizofrenia, yaitu:

a.Faktor Biologis
Adanya gangguan pada neurotransmitter (penyampaian pesan secara kimiawi) dimana terjadi ketidakseimbangan produksi neurotransmitter dopamine. Bila kadar dopamine berlebihan atau kurang, penderita dapat mengalami gejala positif atau gejala negatif.

b.Pengaruh genetik
Kemungkinan bahwa skizophrenia merupakan kondisi kompleks warisan, dengan beberapa gen mungkin berinteraksi untuk menghasilkan resiko schizophrenia terpisah atau komponen yang dapat terjadi mengarah diagnosa. Gen ini akan muncul untuk nonspesifik dimana mereka dapat menimbulkan resiko gila lainnya.

c.Faktor Psikososial

Skizofrenia ditinjau dari faktor psikososial sangat dipengaruhi oleh faktor keluarga dan stressor psikososial. Suatu penjelasan hipotesis akibat sosial yang menyatakan stress yang dialami oleh anggota kelompok sosioekonomi rendah berperan dalam perkembangan skizofrenia.

d.Faktor Sosiokultural
Kebudayaan secara teknis adalah ide atau tingkah laku yang dapat dilihat maupun yang tidak terlihat. Faktor budaya bukan merupakan penyebab langsung menimbulkan skizofrenia. Di samping mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian seseorang misalnya melalui aturan-aturan kebiasaan yang berlaku dalam kebudayaan tersebut. Beberapa faktor-faktor kebudayaan tersebut :

-Cara-cara membesarkan anak
Cara-cara membesarkan anak yang kaku dan otoriter, hubungan orang tua anak menjadi kaku dan tidak hangat. Anak-anak setelah dewasa mungkin bersifat sangat agresif atau pendiam dan tidak suka bergaul atau justru menjadi penurut yang berlebihan.

-Sistem Nilai
Perbedaan sistem nilai, moral, dan etika antara kebudayaan yang satu dengan yang lain, antara masa lalu dengan sekarang sering menimbulkan masalah-masalah kejiwaan. Begitu pula perbedaan moral yang diajarkan di rumah/sekolah dengan yang dipraktekkan di masyarakat sehari-hari.

e.Usia
Schizophrenia umumnya terjadi pada akhir masa remaja dan awal masa dewasa. Menurut data yang ditunjukkan pusat data schizophrenia AS, tiga perempat penderita schizophrenia berusia 16-25 tahun. Pada kelompok usia 16-25 tahun, schizophrenia mempengaruhi lebih banyak laki-laki dibanding perempuan, sedangkan pada kelompok usia 26-32 tahun penyakit ini lebih banyak menyerang perempuan.

f.Psikologis
Sejumlah mekanisme psikologis telah mempengaruhi orang menderita schizophrenia. Ketika dibawah tekanan atau situasi membingungkan, termasuk perhatian yang berlebihan dapat memunculkan penyakit ini. Banyak individu penderita schizophrenia emosinya sangat responsif, itu dapat menyebabkan kerentanan terhadap gejala kekacauan.

5.Cara Penanganan dan Penyembuhan Skizofrenia
Prognosa dan penyembuhan bagi penderita skizofrenia pada umumnya sedikit sekali. Kemungkinan bisa sembuh terutama jika keadaannya sudah parah sulit dilakukan. Yang penting adalah usaha prefentif menurut Kartini Kartono(2002, h. 247-248) berupa:

a.Menghindarkan dari frustrasi-frustrasi dan kesulitan-kesulitan psikis lainnya.
b.Menciptakan kontak-kontak sosial yang baik.
c.Membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif, dan mau melihat hari depan dengan rasa berani.
d.Beranikan ia mengambil sikap tegas dalam menghadapi realitas dengan rasa positif dan usakanlah agar dia bisa menjadi extrovert.

Dalam situs www.sivalintar.com dijelaskan tentang beberapa cara penanganan skizofrenia, yaitu:

a.Sikap menerima adalah langkah awal penyembuhan
b.Penderita perlu tahu penyakit apa yang diderita dan bagaimana melawannya.
c.Dukungan keluarga akan sangat berpengaruh.
d.Perawatan yang dilakukan oleh para ahli bertujuan mengurangi gejala skizofrenik dan kemungkinan gejala psyhcotik.
e.Penderita skizofrenia biasanya menjalani pemakaian obat-obatan selama waktu tertentu, bahkan mungkin harus seumur hidup.

Cara-cara Terapi/Perawatan Skizofrenia

Selain cara dengan perawatan di rumah sakit (umum atau jiwa) dan rawat jalan, ada cara alternatif, yaitu dirawat hanya pada siang atau malam hari saja di rumah sakit, sebagian hari lainnya pasien berada di rumah bersama dengan keluarga atau di sekolah atau tempat kerja bersama teman-temannya.

Selain itu ada program terapi residensial, yaitu tempat semacam asrama bagi pasien skizofrenia yang sudah relatif tenang atau mencapai keadaan remisi (tetapi masih memerlukan rehabilitasi, latihan keterampilan lebih lanjut), dapat hidup dalam suasana lingkungan seperti keluarga (bersama-sama pasien lainnya). Hal itu berguna agar ia dapat mempraktekkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya di tengah-tengah lingkungan yang mendukung sehingga ia kemudian juga terampil menjalani kehidupan ini di luar rumah sakit, di tengah-tengah masyarakat luas seperti anggota masyarakat pada umumnya.
Semuanya memerlukan semacam dukungan sosial (social support) dari komuniti atau lingkungan masyarakatnya.

Secara tuntas, untuk terapi holistik diperlukan perhatian baik untuk fisiknya (makanan, istirahat, medikasi, latihan fisik), mental-emosionalnya (psikoterapi, konseling psikologis), dan bimbingan social (cara bergaul, latihan keterampilan social) serta lingkungan keluarga dan social yang mendukung. Di samping terapi okupasional (kegiatan untuk mengisi waktu) diperlukan juga terapi/rehabilitasi vokasional (untuk melatih keterampilan kerja tertentu yang dapat digunakan pasien untuk mencari nafkah).

B.TEMUAN DAN ANALISIS
Berdasarkan hasil observasi ke lapangan dengan mengajak pengidap skizofrenia untuk bercakap-cakap, diperoleh kesimpulan bahwa peneliti menemukan ada pengidap skizofrenia yang introvert, sulit untuk diajak bicara, dan bahkan terlihat takut, dan lari. Namun, ada juga peneliti menemukan pengidap skizofrenia yang cenderung pemarah, menceracau, dan tidak sesuainya antara pertanyaan yang peneliti ajukan dengan jawaban yang dilontarkan oleh si skizofrenia.

Penelitian ini penulis lakukan di salah satu kampung di Pesisir Selatan tepatnya di kenagarian Balai Selasa, daerah Tabek dan di depan bioskop Karya, Padang. Penderita skizofrenia di daerah Tabek, Balai Selasa lebih agresif, menceracau dan tidak adanya kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang ditanyakan. Ketika diminta keterangan kepada keluarganya, sebab bapak Fe’i menjadi gila karena dia terlalu mendalami ilmu agama. Namun, karena tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, akibatnya pak Fe’i tamakan kaji dan menjadi gila. Setiap pertanyaan yang kami ajukan selalu tidak sesuai jawabannya dan bahkan terkadang ia mengabaikan pertanyaan dari kami, dia sibuk bercerita sendiri saja.

Meskipun pak Fe’i gila, tapi keluarganya mengatakan kalau bapak Fe’i tidak mengganggu orang tapi hanya sering marah-marah tidak jelas dan menceracau sendiri. Berikut cuplikan pembicaraan dengan pengidap skizofrenia yaitu bapak Fe’i
Nama : Fe’i
Umur : 62 tahun
Tempat tinggal : Tabek, Balai Selasa
“Sagalo yang ado di bumi jo di langik, mamohon kapada-Nyo, jo caro masing-masing, kasanyo gilo”.
Itu salah satu cuplikan perkataan yang diucapkan oleh pak Fe’i. Dari sikap dan berbicaranya pak Fe’i dapat kami simpulkan bahwa pak Fe’i termasuk pengidap skizofrenia paranoid. Kami menyimpulkan begitu karena dilihat dari ciri-ciri pengidap skizofrenia sama dengan pak Fe’i. Adapun ciri-ciri dari skizofrenia paranoid yaitu:

a.Penderita diliputi macam-macam delusi dan halusinasi yang terus berganti-ganti coraknya dan tidak teratur serta kacau balau.
b.Pasien tampak lebih waras dan tidak sangat ganjil dan aneh jika dibandingkan dengan penderita skizofrenia jenis lainnya.
c.Akan tetapi pada umumnya dia bersikap sangat bermusuhan terhadap siapapun juga.
d.Merasa dirinya penting.
e.Sering sangat fanatik religious secara berlebihan.
Kesamaan ciri-ciri pak Fe’i dengan yang di atas, terlihat dari penampilan pak Fe’i seperti orang waras dan pakainnya rapi, hal itu mungkin disebabkan karena pak Fe’i masih tinggal dengan keluarganya, sehingga masih diurus oleh keluarganya. Berdasarkan keterangan keluarganya, pak Fe’i memang sangat fanatik dengan agama, sehingga akibat kegilaannya yaitu juga karena terlalu mendalami ilmu agama, namun tidak seimbang dengan dirinya. Keluarganya juga menyatakan bahwa pak Fe’i sering marah-marah dan menceracau tanpa ada sebabnya serta berhalusinasi dan berdelusi sendiri. Terkadang pak Fe’i juga agak sedikit waspada terhadap orang yang baru dilihatnya.

Bapak Fe’i (62 tahun)

Pengidap Skizofrenia Kedua:

Data didapatkan di depan bioskop KARYA, Padang. Identitas orang gila tersebut tidak bisa diketahui karena susah diajak berkomunikasi dan orang-orang sekitar juga tidak mengenal identitas dari orang tersebut, tetapi orang-orang sekitar tahu bagaimana tingkah lakunya. Menurut orang disekitar sana, bapak itu sering berada di depan bioskop karya tersebut dan tidak mengganggu orang-orang sekitar. Ketika kami ajak berbicara, informan ini lebih banyak diam dan hanya merespon ucapan kami dengan menunjuk dan sekali-kali menjawab, itupun tidak sesuai jawaban dengan apa yang kami tanyakan.

Kami : Pak dimano rumah pak?
Informan : di Sawah (sambil nunjuk ke depan)
Kami : bini pak?
Informan : di sawah tu
Kami : anak pak mano?
Informa : bunghatta

Dari percakapan di atas bisa kita lihat bahwasanya informan kedua ini tergolong ke dalam skizofrenia kompleks, di mana gejala yang menyolok adalah kedangkalan emosi dan penurunan kemauan serta gangguan pikiran. Hal itu terlihat dari penampilan si informan yang sangat tidak terawat, badan yang tidak terurus dan bau badan yang sangat menusuk, dan adanya kedangkalan emosi, di mana si informan ketika diajak berbicara hanya diam dan tidak adanya emosi yang meledak-ledak dan sikap kasar.

Bahkan terlihat si informan takut dan tidak mau diajak berbicara. Pada informan ini sangat terlihat gangguan berfikirnya. Hal itu terlihat dari ketidaksesuaian jawaban yang dilontarkan atas pertanyaan yang kami berikan, terjadinya disorganisasi, pendataran afek, alogia, avolusi, dan anhedonia.

Sumber :
Copyright 2013 Kampusindo.com
kampus indonesia

Penanganan Menyeluruh Bagi Penderita Skizofrenia



Skizofrenia merupakan salah satu penyakit jiwa terberat yang menjadi beban bagi penderitanya. Pun berpengaruh besar terhadap hubungan sosial penderitanya, yaitu berupa penurunan kemampuan interaksi sosial yang membuat penderita mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan teman-temannya.

Skizofrenia adalah salah satu kelainan pada otak yang terjadi akibat gangguan keseimbangan kimia di otak. Sejauh ini tidak ada satu penyebab pasti dari skizofrenia. Banyak faktor berkontribusi terhadap terjadinya skizofrenia.

Faktor ini seperti genetik, kondisi prakelahiran, cedera otak, trauma, tekanan sosial, dan stres. Penggunaan narkoba juga dapat menjadi faktor pemicu skizofrenia.

Skizofrenia ini menjadi penyakit kronis, terlebih ketika penderita memiliki kesulitan memproses pikirannya. Pada mereka dengan masalah skizofrenia, juga muncul halusinasi, delusi, pikiran yang tidak jelas, dan tingkah laku atau bicara yang tidak wajar.

Gejala tersebut dikenal sebagai gejala psikotik, menyebabkan penderita skizofrenia mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Penderita pun cenderung menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar.

Karena sulit berinteraksi dengan orang lain, skizofrenia berdampak pada perkembangan karier penderita. Banyak yang berhenti bekerja setelah mengalami skizofrenia. Tidak hanya itu saja, kondisi fisik mereka ikut memburuk. Sekitar 10 persen orang yang menderita skizofrenia berakhir dengan bunuh diri.

Untuk itu diperlukan penanganan bagi penderita skizofrenia. Pendekatan penanganan mesti menyeluruh, baik secara psikologis, sosial, spiritual, maupun intelektual.

Menurut Herni Susanti, MN, perwakilan dari Mental Health Care Management UI, keluhan yang sering disampaikan oleh penderita meski obat sudah teratur dikonsumsi, kemampuan psikologisnya masih belum cukup baik.

"Mereka masih tidak tahan dengan stres. Penyebabnya, mereka tidak dibekali cara menangani stres," kata perempuan yang sedang menempuh program doktor di University of Manchester, Inggris ini.

Skizofrenia bisa dideteksi lewat hidung?

Peneliti dari Israel dan Amerika Serikat menemukan cara baru untuk mendiagnosis skizofrenia, yaitu mengumpulkan jaringan dari dalam hidung.
Sampai sekarang skizofrenia merupakan penyakit yang memang cukup sulit untuk dideteksi. Biasanya, skizofrenia didiagnosis dari berbagai evaluasi psikologis atau sampel otak yang diambil setelah pasien meninggal dunia.
Namun peneliti dari Johns Hopkins Hospital di Baltimore menemukan cara yang lebih mudah untuk mendeteksi skizofrenia. Mereka tepatnya mengumpulkan sampel sistem saraf pada hidung pasien.
Setelah itu, peneliti dari Tel Aviv University di Israel menganalisis jaringan tersebut dan mengidentifikasi jumlah mikroRNA - molekul yang membantu regulasi kode genetik - cukup tinggi ditemukan pada pasien skizofrenia.
Sebagaimana dilansir dari Toronto Sun, skizofrenia adalah gangguan biokimia kompleks pada otak yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk membedakan antara kenyataan atau fiksi. Sampai saat ini, sayangnya belum ditemukan obat untuk menyembuhkan skizofrenia secara total.
Peneliti optimis bahwa analisis terbaru mereka bisa memberikan petunjuk dalam memahami dan mengobati skizofrenia. Hasil penelitian kemudian dilaporkan dalam jurnal Neurobiology of Disease.

Penyakit Skizofrenia Dipicu Oleh Kerusakan Otak

Melalui penelitian dengan menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI), ahli saraf dan psikiater dari Universitas Kolombia mampu mengidentifikasikan area di otak yang terlibat di dalam tahapan dini terjadinya skizofrenia yang berkaitan dengan kelainan psikotik. Aktivitas pada daerah spesifik hipokampus mampu memprediksi onset dari penyakit ini sehingga mampu menghasilkan diagnosis dini dan membuka kesempatan untuk pembentukan obat atau terapi untuk mencegah terjadinya skizofrenia.

Penelitian ini dipublikasikan melalui Archives of General Psychiatry, September 2009. Di dalam penelitian, para peneliti melakukan scanning otak pada 18 individu dengan risiko tinggi dan memiliki gejala prodromal serta dibandingkan dengan 18 individu sehat yang diikuti selama 2 tahun. Bagi mereka yang mengalami episode pertama gejala psikotik, didapatkan sekitar 70% peserta memiliki peningkatan aktivitas di daerah hipokampus yang disebut dengan subregio CA1.

Penelitian sebelumnya memang telah mengidentifikasikan secara general peningkatan aktivitas di area hipokampus pada skizofrenia kronik. Penelitian saat ini menunjukkan bahwa pada tahapan dini dari penyakit, sebelum gejala bermanifestasi, peningkatan aktivitas di regio tertentu dari hipokampus dapat menjadi salah satu deteksi dini berlanjutnya penyakit ini.

fMRI merupakan teknik pemeriksaan non-invasif yang dapat mengukur metabolisme otak yang mengindikasikan bagian dari otak yang aktif selama aktivitas tertentu. Mapping atau memetakan cerebral blood volume (CBV) adalah metode yang digunakan di dalam fMRI untuk mengukur aktivitas yang mengindikasikan peningkatan atau penurunan dari metabolisme otak.

‘Kerusakan otak yang selama ini sering terjadi sulit dideteksi melalui teknik pemeriksaan penunjang konvensional,’ kata Dr. Small Herbert Irving, profesor dalam bidang Neurologi di Sergievsky Center dan diTaub Institute for Research on Alzheimer’s Disease and the Aging Brain Universitas Kolombia. ‘Sangatlah penting untuk menvisualisasikan area yang paling dipengaruhi di otak sehingga dapat memberi kita petunjuk mengenai penyebab dari penyakit.

Saat ini, tidak ada pemeriksaan yang mempu mendiagnosis skizofrenia pada tahapan dini. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis setelah menyingkirkan penyebab lainnya.

Punya Avatar Bantu Sembuhkan Pasien Skizofrenia


TEMPO.CO - Penggunaan avatar ternyata dapat membantu pasien Skizofrenia atau gangguan kejiwaan untuk mengurangi gangguan berupa suara - suara aneh. Melalui perangkat lunak komputer, suara - suara aneh yang didengar pasien Skizofrenia dapat diterjemahkan ke dalam sebuah bentuk avatar.

Temuan yang telah dipublikasikan dalam British Journal of Psychiatry ini menyebutkan, 3 dari 6 pasien Skizofrenia yang menjalani terapi Avatar sebanyak enam kali mengaku gangguan suara sangat berkurang jauh. Bahkan tiga dari mereka menyatakan, suara yang kerap mengganggu sudah tidak lagi muncul.

"Suara yang telah diterjemahkan ke dalam Avatar didesain secara bertahap mengatakan kepada pasien, 'Anda akan baik - baik saja, dan aku akan meninggalkan anda'," ujar Profesor Peneliti, Julian Leff dari University College London, seperti yang dikutip dalam situs berita BBC, Kamis, 30 Mei 2013.

Meskipun avatar dapat membantu pasien Skizofrenia menjadi lebih baik, Julian Leff tidak menganjurkan pasiennya untuk menggunakan sistem avatar ini secara terus menerus. Leff lebih mendorong pasien untuk meyakini dirinya sendiri, bahwa apa yang dikatakan Avatar sebenarnya tidak ada. "Apa yang mereka (avatar) katakan adalah omong kosong, avatar harus pergi meninggalkan anda sendirian, anda tidak perlu siksaan semacam ini," katanya.

Terapi avatar merupakan bentuk pengobatan alternatif apabila pasien Skizofrenia tidak merespon terhadap obat-obatan oral. Terapi avatar merupakan terapi perilaku kognitif yang dapat membantu pasien dalam mengatasi gangguan suara yang tidak juga hilang setelah minum obat anti psikotik.

"Obat anti psikotik sangat penting bagi banyak orang (dengan Skizofrenia), namun obat - obatan ini memiliki banyak efek samping yang parah," ujar Paul Jenkins, dari Badan Amal untuk Penyakit Mental, Rethink.

Minggu, 11 Januari 2009

Pelurusan Soal Skizofrenia



Saya hanya mencoba memberikan suatu tinjauan keilmuan psikiatri mengenai pernyataan yang Saudara Helwan Purwanegara tulis dalam kolom buku pilihan yang berjudul "Ruang Batin Penderita Skizofrenia" pada halaman 12 Koran Tempo edisi Minggu, 12 Desember 2004. Hal ini saya lakukan agar nantinya tidak timbul persepsi yang keliru di kalangan masyarakat mengenai bentuk bantuan yang dapat seorang psikiater berikan demi penyembuhan seorang penderita skizofrenia.

Tulisan resensi yang Saudara buat itu cukup baik dalam menganalisis poin-poin penting dalam buku Ratu Adil, Memoar Seorang Skizofren atas dasar pemahaman keilmuan psikologi yang Saudara miliki mengenai suatu gangguan skizofrenia. Tapi kemudian timbul pertanyaan dalam benak saya ketika membaca tiga paragraf akhir dari tulisan tersebut.

Terdapat tiga hal penting yang sepertinya harus saya luruskan menyangkut pernyataan Saudara mengenai suatu gangguan skizofrenia. Yang pertama, saya setuju dengan pernyataan Saudara yang mengatakan bahwa tradisi psikiatri klinik cenderung merepresi pengalaman-pengalaman yang tidak nyata (patologis) pada penderita skizofrenia.

Hal ini berkaitan dengan masalah reality testing ability (RTA) atau kemampuan daya nilai realitas penderita skizofrenia yang mengalami gangguan seperti adanya waham dan halusinasi. Obat-obatan antipsikotik digunakan untuk menekan gejala positif yang terjadi pada penderita skizofrenia itu, bukan obat-obatan antidepresan seperti yang Saudara tulis dalam paragraf tersebut.

Yang kedua, saya kurang setuju dengan pernyataan Saudara yang mengatakan bahwa skizofrenia adalah problem psikologis dan bukan problem biologis. Sebab, penyebab gangguan kejiwaan itu (dalam hal ini skizofrenia) merupakan satu kesatuan dari tiga aspek, yaitu bio-psiko-sosial.

Sejak memasuki abad milenium ini, justru masalah biologis menjadi topik bahasan yang sangat menarik bagi kalangan peneliti psikiatri biologik di dunia dalam menemukan penjelasan biologis di otak dari gangguan skizofrenia. Berdasarkan hasil penelitian terbaru dalam jurnal psikiatri mengenai kaitan neurotransmitter dopamin, serotonin, efinefrin, dan norefinefrin dengan gangguan kejiwaan, dapat disimpulkan bahwa untuk setiap gangguan kejiwaan itu kini dapat diterangkan penjelasan biologisnya.

Yang ketiga, karena penyebab gangguan kejiwaan itu menyangkut tiga aspek tadi, penanganannya pun harus secara holistik antara problem biologis, psikologis, dan sosial. Jadi tidaklah benar kalau pemberian obat-obatan justru akan merusak saraf otak penderitanya. Sebab, seorang dokter pasti mempunyai dasar farmakologis tertentu dalam memberikan obat kepada pasiennya demi membantu penyembuhan.

Dokter Isa Multazam Noor

Apa dan Bagaimana Gangguan Kejiwaan?

-->

Depresi

Tidak mudah mendepinisikan Depresi secara tepat. Depresi lebih parah daripada sekedar perasaan putus asa sesaat; depresi adalah penyakit yang menguras emosi, yang secara serius mengganggu kesanggupan seseorang untuk melakukan aktivitasnya secara normal.

Dokter Andrew Slaby menggambarkan parahnya kondisi depresi itu begini, "Bayangkan nyeri pisik terhebat yang pernah anda rasakan --patah tulang, sakit gigi, atau sakit bersalin-- lipat gandakan sepuluh kali dan bayangkan anda tidak tahu penyebabnya; barulah anda mungkin dapat mengira-ngira seberapa menyiksanya depresi itu."

Menurut Dr.H.M. Surya, istilah depresi digunakan untuk menamai suatu bentuk gejala gangguan mental yang ditandai dengan penekanan perasaan yang amat mendalam.
Sedangkan depresi terselubung merupakan gejala perasaan tertekan dalam diri orang-orang yang secara keseluruhan tergolong normal. Meskipun terjadi pada orang-orang normal, akan tetapi rasa tertekan ini akan mempengaruhi keseluruhan perilakunya. Bila keadaan ini dibiarkan terus-menerus maka penampilan kepribadiannya pun akan mengalami gangguan dan bukan mustahil dapat menjadi depresi yang sebenarnya.
Para individu yang dianggap mendapat gangguan depresi terselubung sering mendapat kesulitan dalam perilaku kehidupannya. Gangguan ini tidak hanya menghambat diri yang bersangkutan saja, akan tetapi secara tidak langsung dapat mengganggu kehidupan lingkungan.
Dalam kadar tertentu gejala depresi terselubung banyak dihadapi oleh berbagai pihak baik disadari atau tidak, dan pada umunya tidak disadari oleh yang bersangkutan.

Seseorang yang depresi sungguh-sungguh merasa pedih. Kepedihan itu benar-benar tak terbayangkan, juga bukan aksi pura-pura untuk sekedar menarik perhatian. --(Sedarlah!)

Lebih lengkap tentang Depresi, klik link berikut :

Gangguan Afektif
Gangguan Mental dan Bunuh Diri
Depresi terselubung
Ruang Remaja
Pengalamanku

Ansietas

Ansietas dan kecemasan, kembar yang tidak dapat dipisahkan!
Ada hal-hal yang buruk yang dapat Anda derita tetapi ansietas dan kecemasan adalah masalah- masalah yang umum terjadi. Mengapa demikian? Pertama-tama ansietas dan kecemasan sangat berhubungan dengan rasa takut. Rasa takut dapat merupakan emosi yang sangat kuat dan ada alasan-alasan biologis untuk itu.

Ansietas adalah perasaan yang Anda alami ketika Anda terklalu mengkhawatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi di mas depan yangtidak bisa Anda kendalikan dan yang jika itu terjadi, akan dinilai sebagai 'mengerikan', atau dapat mengungkapkan bahwa Anda adalah orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran Anda sendiri.


Selengkapnya...



Gangguan Bipolar

Menurut Barbara D.Ingersol, Ph.D dan Sam Goldstain, gangguan bipolar (juga dikenal sebagai ganguan manik depresif) adalah "suatu kondisi yang dicirikan oleh episode depresi yang diselingi dengan periode manakala suasana hati dan energi sangat meningkat. begitu meningkatnya hingga melampaui batas normal suasana hati yang baik". Fase peningkatan ini disebut mania. Gejalanya mungkin mencakup berpikir dengan sangat cepat. Cerewet, dan penurunan kebutuhan untuk tidur. Bahkan, sipenderita dapat terjaga selama berhari-hri tanpa tidur, tetapi tidak menunjukan tanda-tanda kehabisan energi. Gejala lain dari gangguan bipolar adalah perilaku yang sangat impulsif tanpa memikirkan konsekwensi.

"Mania sering kali mempengaruhi cara berpikir, penilaian, dan prilaku sosial dengan cara yang menimbulkan problem serius dan hal-hal yang memalukan," kata laporan yang dibuat oleh Institut Kesehatan Mental Nasional AS. Berapa fase mania ini berlangsung? kadang-kadang hanya beberapa hari; dalam kasus lain, mania terus berlangsung selama beberapa bulan sebelum akhirnya digantikan oleh pasangannya, depresi.


Selengkapnya...

Skizofrenia

Apa sebenarnya skizofrenia? Siapa saja yang bisa terkena penyakit yang menyerang otak ini? Bagaimana penyakit ini menyerang manusia? Apa saja gejalanya? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap meligkupi kaum awam atau keluarga yang salah satu anggota keluarganya menderita skizofrenia.

Menurut situs resmi www.schizophrenia.com, skizofrenia adalah penyakit yang diakibatkan gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak manusia.

Umumnya ada dua macam penyakit yang biasa disebut gila ini, yaitu neurosa dan psikosa. Skizofrenia termasuk psikosa. Penyebabnya sampai kini belum diketahui secara pasti, namun disebutkan faktor keturunan bisa menjadi salah satu penyebab.


Selengkapnya...

Lebih lengkap dan detail tentang depresi, ansietas, gangguan bipolar, skizofrenia dan gangguan kejiwaan lainya, kunjungi situs-situs berikut ini:
www.narsad.org
www.bipolarfocus.org
www.schizophrenia.com

DAMPAK ELECTROCONVULSIVE THERAPY TERHADAP KEMAMPUAN MEMORY KLIEN DI RSJP BANDUNG

-->

Depresi

Tidak mudah mendepinisikan Depresi secara tepat. Depresi lebih parah daripada sekedar perasaan putus asa sesaat; depresi adalah penyakit yang menguras emosi, yang secara serius mengganggu kesanggupan seseorang untuk melakukan aktivitasnya secara normal.

Dokter Andrew Slaby menggambarkan parahnya kondisi depresi itu begini, "Bayangkan nyeri pisik terhebat yang pernah anda rasakan --patah tulang, sakit gigi, atau sakit bersalin-- lipat gandakan sepuluh kali dan bayangkan anda tidak tahu penyebabnya; barulah anda mungkin dapat mengira-ngira seberapa menyiksanya depresi itu."

Menurut Dr.H.M. Surya, istilah depresi digunakan untuk menamai suatu bentuk gejala gangguan mental yang ditandai dengan penekanan perasaan yang amat mendalam.
Sedangkan depresi terselubung merupakan gejala perasaan tertekan dalam diri orang-orang yang secara keseluruhan tergolong normal. Meskipun terjadi pada orang-orang normal, akan tetapi rasa tertekan ini akan mempengaruhi keseluruhan perilakunya. Bila keadaan ini dibiarkan terus-menerus maka penampilan kepribadiannya pun akan mengalami gangguan dan bukan mustahil dapat menjadi depresi yang sebenarnya.
Para individu yang dianggap mendapat gangguan depresi terselubung sering mendapat kesulitan dalam perilaku kehidupannya. Gangguan ini tidak hanya menghambat diri yang bersangkutan saja, akan tetapi secara tidak langsung dapat mengganggu kehidupan lingkungan.
Dalam kadar tertentu gejala depresi terselubung banyak dihadapi oleh berbagai pihak baik disadari atau tidak, dan pada umunya tidak disadari oleh yang bersangkutan.

Seseorang yang depresi sungguh-sungguh merasa pedih. Kepedihan itu benar-benar tak terbayangkan, juga bukan aksi pura-pura untuk sekedar menarik perhatian. --(Sedarlah!)

Lebih lengkap tentang Depresi, klik link berikut :

Gangguan Afektif
Gangguan Mental dan Bunuh Diri
Depresi terselubung
Ruang Remaja
Pengalamanku

Ansietas

Ansietas dan kecemasan, kembar yang tidak dapat dipisahkan!
Ada hal-hal yang buruk yang dapat Anda derita tetapi ansietas dan kecemasan adalah masalah- masalah yang umum terjadi. Mengapa demikian? Pertama-tama ansietas dan kecemasan sangat berhubungan dengan rasa takut. Rasa takut dapat merupakan emosi yang sangat kuat dan ada alasan-alasan biologis untuk itu.

Ansietas adalah perasaan yang Anda alami ketika Anda terklalu mengkhawatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi di mas depan yangtidak bisa Anda kendalikan dan yang jika itu terjadi, akan dinilai sebagai 'mengerikan', atau dapat mengungkapkan bahwa Anda adalah orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran Anda sendiri.


Selengkapnya...



Gangguan Bipolar

Menurut Barbara D.Ingersol, Ph.D dan Sam Goldstain, gangguan bipolar (juga dikenal sebagai ganguan manik depresif) adalah "suatu kondisi yang dicirikan oleh episode depresi yang diselingi dengan periode manakala suasana hati dan energi sangat meningkat. begitu meningkatnya hingga melampaui batas normal suasana hati yang baik". Fase peningkatan ini disebut mania. Gejalanya mungkin mencakup berpikir dengan sangat cepat. Cerewet, dan penurunan kebutuhan untuk tidur. Bahkan, sipenderita dapat terjaga selama berhari-hri tanpa tidur, tetapi tidak menunjukan tanda-tanda kehabisan energi. Gejala lain dari gangguan bipolar adalah perilaku yang sangat impulsif tanpa memikirkan konsekwensi.

"Mania sering kali mempengaruhi cara berpikir, penilaian, dan prilaku sosial dengan cara yang menimbulkan problem serius dan hal-hal yang memalukan," kata laporan yang dibuat oleh Institut Kesehatan Mental Nasional AS. Berapa fase mania ini berlangsung? kadang-kadang hanya beberapa hari; dalam kasus lain, mania terus berlangsung selama beberapa bulan sebelum akhirnya digantikan oleh pasangannya, depresi.


Selengkapnya...

Skizofrenia

Apa sebenarnya skizofrenia? Siapa saja yang bisa terkena penyakit yang menyerang otak ini? Bagaimana penyakit ini menyerang manusia? Apa saja gejalanya? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap meligkupi kaum awam atau keluarga yang salah satu anggota keluarganya menderita skizofrenia.

Menurut situs resmi www.schizophrenia.com, skizofrenia adalah penyakit yang diakibatkan gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak manusia.

Umumnya ada dua macam penyakit yang biasa disebut gila ini, yaitu neurosa dan psikosa. Skizofrenia termasuk psikosa. Penyebabnya sampai kini belum diketahui secara pasti, namun disebutkan faktor keturunan bisa menjadi salah satu penyebab.


Selengkapnya...

Lebih lengkap dan detail tentang depresi, ansietas, gangguan bipolar, skizofrenia dan gangguan kejiwaan lainya, kunjungi situs-situs berikut ini:
www.narsad.org
www.bipolarfocus.org
www.schizophrenia.com

Terapi Halilintar untuk Penderita Schizophrenia



-->

YOGYAKARTA -- Tujuh calon legislatif dinyatakan tidak lolos tes kesehatan jiwa. Diperkirakan jumlah itu masih akan bertambah. Meski masih dalam taraf ringan, mereka dipastikan menderita gangguan jiwa (schizophrenia) dan antisosial.

Kondisi ini sangat memprihatinkan. Menurut psikolog klinis Universitas Gadjah Mada, Yayi Suryo Prabandari MSi, jumlah penderita schizophrenia seperti gunung es. Banyak penderita yang gejalanya masih tersembunyi, belum termanifes.

Untuk mengungkap lebih jauh seluk-beluk dan pengobatan penyakit itu, Rumah Sakit Kejiwaan Puri Nirmala, Yogyakarta, menyelenggarakan simposium "Blitzkrieg Therapy Melawan 1.000 Schizophrenia dengan Variasinya", di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Sekitar 400 orang peserta simposium memenuhi auditorium hotel itu. Sebagian dari mereka adalah mantan penderita schizophrenia, ada pula yang masih berobat jalan. Tak ketinggalan para orang tua. Mereka saling berbagi pengalaman, untuk merawat anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa.

Gejala positif dan negatif
Sindrom gangguan jiwa ini memiliki dua gejala, yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif ditandai dengan manifestasi florig seperti waham atau halusinasi. "Gejala seperti ini biasanya mendorong penderita untuk dirawat di rumah sakit karena fungsi sosialnya menurun," kata ahli jiwa Prof. Dr. Soejono Prawirohadikusumo, 75 tahun, yang juga penemu metode blitzkrieg alias terapi halilintar.

Penyakit ini biasanya diderita secara kronis dan kambuh-kambuhan, dengan prevalensi seumur hidup satu persen. Sepuluh persen penderita schizophrenia, biasanya berakhir dengan bunuh diri.

Menurut Soejono, penderita Schizophrenia, sering merepotkan perawat dan petugas jaga. Suatu hari, ada seorang pasien yang baru datang, tiba-tiba memberontak. Pemuda itu berusaha melarikan diri dengan membobol eternit kamarnya, namun tidak berhasil kabur.

Setelah mendapat perawatan selama seminggu, pasien itu kembali tenang. "Pada hari keempat, biasanya pasien sudah tenang dan bisa berbincang normal," katanya.

Dijelaskan Soejono, seperti namanya--halilintar--terapi ini tidak membutuhkan waktu lama, maksimal tujuh hari rawat inap.

Hari pertama sampai hari keempat, pasien diberi obat dosis tinggi tiga kali sehari, tidak boleh absen. Selama itu pasien diisolasi, tidak boleh dijenguk.

Tujuannya untuk mengawasi sistem limbik. Selain itu, juga untuk menghilangkan perasaan bisikan-bisikan, bayangan atau ancaman. "Bila pasien mempunyai kecenderungan mengamuk, atau pergi, pasien tidur dalam posisi terikat," ujar ayah empat anak ini.

Selanjutnya, pada hari kelima hingga ketujuh, pasien sudah dalam kondisi normal sehingga bisa dilakukan psikoterapi. Hari berikutnya pasien dibekali satu kali suntikan di pantat dan boleh pulang. Sebulan sekali keluarga pasien harus melaporkan kegiatan pasien.

"Peran pengawasan keluarga dan laporan kegiatan ini sangat penting, agar kami bisa menentukan obat untuk bulan berikutnya. Jadi kesembuhan total pasien tergantung juga dari peran keluarga dan faktor keturunan," kata Soejono.

Metode pengobatan ini dikembangkan Soejono sejak 1989, namun baru diterapkan ke pasien pada 1994. Terapi ini, menurut Soejono, menghantam dua gejala positif maupun negatif secara bersamaan.

Sementara itu, pengobatan yang umum diberikan oleh para dokter maupun rumah sakit, hanya mengobati gejala positifnya saja. "Dengan pengobatan seperti itu pasien memang kelihatan sudah sembuh, padahal dia masih menyimpan gejala negatif," ujar mantan guru besar di UGM ini.

Sejak dimulainya terapi ini, Soejono melakukan pengamatan terhadap pasien-pasiennya. Hasilnya cukup menggembirakan. Dari seluruh pasien yang diobati, 90-95 persen penderita skizofrenia bisa sembuh total.

Diungkapkannya, metode penyembuhan ini tidak rumit dan sangat sederhana. Dia mengandaikan sebuah lagu, dirinya hanya mengaransemen saja. "Obatnya kan sudah ada, jadi saya ini hanya mengaransemen saja," ujarnya.

Menurut Soejono, umumnya gejala positif ini dihubungkan dengan ekses dopamine dalam sistem mesolimbik di otak, yang mengandung serabut-serabut proyeksi dari otak tengah menuju korteks frontal.

Schizophrenia juga sering disebut aktivitas hyperdopaminergic, karena itu pengobatannya harus dapat memblokir aktivitas receptor D2 di sistem mesolimbik otak secara selektif.

Mahal dan jangka panjang
Berdasarkan penelitian Prof. Dr. Aris Sudiyanto, guru besar Fakultas Kedokteran Jiwa Universitas Negeri Surakarta, 71,43 persen pasien schizophrenia yang mendapat pengobatan neuroleptik atipikal dapat mencapai remisi dan hanya 28,57 persen yang masih mempunyai gejala sisa.

Sebaliknya, pasien yang mendapat pengobatan neuroleptik tipikal, 31,67 persen mencapai remisi dan sisanya masih mempunyai gejala sisa.

Dari 112 orang penderita schizophrenia yang diteliti, 17 orang pasien gugur dan sisanya dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pasien yang diberi pengobatan neuroleptik atipikal, pasien diberi clozapine, quetiapine, atau risperidone.

Dalam kelompok pengobatan tipikal, pasien diberi chlorpromazine, trifluoperazine atau haloperidol. "Sayangnya pengobatan neuroleptik atipikal ini mahal sehingga banyak dikeluhkan pasien. Apalagi pengobatan ini untuk jangka panjang," kata Aris.

Menurut Soejono, orang yang menderita skizofrenia memiliki kandungan dopamine yang sangat tinggi sehingga mesolimbik dan mesofrontalnya menumpuk.

Mestinya, mesolimbik (gejala positif) yang tugasnya menerima input dari luar terletak di tengah dalam otak, terpisah dengan mesofrontal (fungsinya mengolah semua informasi dari luar) yang ada di bagian depan (dahi). "Pada waktu pasien datang, lapisan tersebut posisinya gendong-gendongan atau bertumpuk," ujar Soejono.

Dengan metode blitzkrieg, gejala positif dan negatifnya dihantam dengan obat dosis tinggi sehingga lapisan itu bisa kembali ke posisi semula. Penelitian-penelitian membuktikan bahwa sistem serotonergik dapat mempengaruhi pelepasan dopamine dalam sistem nigrostriatal.

Jadi untuk mengantisipasi dopamine, dilakukan blokade total D2 di striatum, antara lain dengan pemberian serotonin 5 HT 2 A antagonis. "Pemberian serotonin ini dapat berpengaruh ganda, yaitu menghilangkan gejala negatif dan mengurangi gejala-gejala samping extrapiramidal (EPS)."

Berdasarkan pengalaman, hambatan yang paling sering timbul ketika keluarga pasien tidak bisa mengerti cara pengobatan yang diterapkan pihak rumah sakit. Terkadang keluarga tidak tega dan ngotot tetap ingin mengunjungi pasien. "Akibatnya, pasien yang semula sudah agak tenang kambuh lagi," kata ayah pakar komunikasi Roy Suryo ini.

Hambatan lain muncul bila pasien juga menderita epilepsi atau intelegensi kurang. "Dengan tempelan penyakit ini, saya tidak bisa menjamin pasien bisa sembuh total, karena aransemen obatnya cukup sulit," kata Soejono yang pada 1977 pernah membuat gebrakan melepas orang-orang yang dipasung.

Kalau penyakit jiwa terberat saja bisa disembuhkan, tentu saja penyakit jiwa yang lebih ringan lebih mudah disembuhkan. ln idayanie/tempo news room

Schizophrenia






Schizophrenia
DEFINISI

Schizoprenia adalah kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan (psikosis), halusinasi, khayalan (kepercayaan yang salah), pikiran yang abnormal dan mengganggu kerja dan fungsi sosial.

Schizophrenia adalah masalah kesehatan umum di seluruh dunia. Kejadian schizophrenia di seluruh dunia adalah kurang dari 1 persen, walaupun angka kejadian bisa lebih tinggi atau lebih rendah yang telah diketahui.

Di Amerika Serikat, orang dengan schizoprenia menempati sekitar seperempat tempat tidur rumah sakit dan tinggal kurang lebih 20 hari.

Schizophrenia lebih sering terjadi daripada penyakit Alzheimer, penyakit gula, atau multiple sklerosis.

Beberapa ciri-ciri kekacauan merupakan bagian dari gejala Schizophrenia. Kekacauan yang menyerupai Schizophrenia, tetapi dengan gejala yang ada kurang dari 6 bulan, hal ini disebut Schizophreniform.

Kekacauan dengan lama kegilaan berakhir sedikitnya 1 hari tetapi kurang dari 1 bulan disebut penyakit psikosis singkat.

Suatu kekacauan ditandai oleh adanya perasaan, seperti depresi atau keranjingan, serta gejala schizophrenia yang lebih khas disebut schizoaffective.

Suatu kekacauan watak yang mungkin mirip dengan gejala Schizophrenia, tetapi dengan gejala umum yang tidak begitu hebat seperti kriteria untuk kegilaan, disebut schizotypal kekacauan watak.

Jenis Schizophrenia

Beberapa peneliti percaya Schizophrenia adalah kekacauan tunggal, sedangkan yang lainnya percaya hal ini adalah sindrom (koleksi gejala) dari banyak sumber penyakit. Jenis Schizophrenia didasarkan pengelompokan pasien dengaan gejala yang sama.Tetapi pada penderita secara individu, jenisnya akan berubah dengan berjalannya waktu.

Schizophrenia paranoid ditandai dengan keasyikan dengan khayalan atau halusinasi pendengaran; berbicara ngawur dan emosi yang aneh menonjol.

Hebephrenic atau Schizophrenia tidak teratur ditandai dengan berbicara ngawur, kelakuan aneh, dan emosi datar yang aneh.

Schizophrenia Catatonic didominasi dengan gejala fisik seperti keadaan tak bergerak, gerak tubuh berlebihan, atau melakukan postur aneh.

Schizophrenia yang tak dapat digolongkan sering ditandai dengan gejala-gejala dari semua kelompok; khayalan dan halusinasi, memikirkan kekacauan dan kelakuan aneh, dan gejala defisit atau negatif.

Baru-baru ini, Schizophrenia sudah diklasifikasikan berdasarkan ada tidaknya dan keparahan gejala negatif atau defisit.

Pada pasien dengan jenis negatif atau defisit schizophrenia, dengan gejala negatif, seperti emosi yang datar, kekurangan motivasi, dan tidak punya tujuan yang menonjol.

Pada penderita dengan non-defisit atau paranoid sizofrenia, khayalan dan halusinasi sangat menonjol, tetapi memiliki relatif sedikit gejala negatif yang terpantau.

Pada umumnya, orang dengan Schizophrenia non-defisit cenderung menjadi tidak parah dan lebih responsif terhadap pengobatan.
PENYEBAB

Meskipun penyebab spesifik Schizophrenia tidak diketahui, kekacauan ini secara jelas mempunyai dasar biologi.

Banyak teori menyetujui model ”vulnerability-stress”, dimana schizophrenia sering terjadi pada orang yang secara biologis lemah. Apa yang membuat orang yang lemah menjadi Schizophrenia belum diketahui tetapi mungkin termasuk kecenderungan genetik; masalah setelah, selama, atau sesudah kelahiran; atau infeksi virus otak.

Kesulitan dalam mengolah informasi, ketidakmampuan untuk memberi perhatian, ketidakmampuan untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima secara sosial, dan ketidakmampuan untuk menanggulangi masalah umum mungkin menunjukkan kelemahan.

Di model ini, tekanan lingkungan, seperti peristiwa kehidupan menegangkan atau bagian masalah mendasar yang salah, menjadi pemicu datangnya dan kambuhnya Schizophrenia pada individu yang lemah.
GEJALA

Penderita Schizophrenia banyak terjadi antara usia 18 dan 25 tahun bagi laki-laki dan antara 26 sampai 45 untuk wanita. Tetapi, datangnya di masa kecil atau awal masa remaja atau di akhir masa hidup adalah jarang terjadi.

Datangnya mungkin mendadak, beberapa hari atau minggu, atau lambat dan tersembunyi, lebih dari bertahun-tahun.

Keparahan dan macam gejala bisa berubah-ubah secara signifikan di antara penderita Schizophrenia.

Secara umum, gejala terbagi dalam tiga kelompok utama; khayalan dan halusinasi; pikiran yang kacau dan tabiat yang aneh; dan dengan gejala yang minim dan negatif.

Orang mungkin mempunyai gejala dari satu atau ketiga kelompok tersebut. Gejala-gejala tersebut bisa cukup parah seperti mengganggu kemampuan untuk bergaul dengan orang lain, dan merawat diri sendiri.

Khayalan adalah kepercayaan palsu yang biasanya meliputi salah tafsir persepsi atau pengalaman. Misalnya, penderita Schizophrenia mungkin mengalami khayalan, percaya bahwa mereka sedang disiksa, diikuti, diperdayakan, atau dimata-matai.Mereka mungkin mempunyai referensi khayalan, percaya bahwa bagian dari buku, koran, atau syair lagu ditujukan secara khusus untuk mereka.

Mereka mungkin mempunyai khayalan pemikiran yang terbalik atau pikiran disisipi, percaya bahwa orang lain bisa membaca pikiran mereka, bahwa pikiran mereka sedang ditransfer ke orang lain, atau bahwa pikiran dan gerak hati mereka sedang dipaksakan pada oleh pihak lain.

Halusinasi baik, penglihatan, bau, rasa, atau sentuhan mungkin terjadi, meskipun halusinasi suara (halusinasi pendengaran) adalah yang sering terjadi.

Penderita mungkin “mendengar” suara yang mengomentari kelakuannya, berbicara dengan satu sama lain, atau membuat komentar kritis dan kasar terhadapnya.

Kekacauan pikiran berkaitan dengan pikiran yang berantakan, yang tampak kalau berbicara bertele-tele, bergeser dari satu topik kepada lainnya, dan kehilangan arah tujuannya. Kemampuan bicara mungkin dengan perlahan menjadi tak teratur atau betul-betul membingungkan dan tak dapat dipahami.

Kelakuan aneh mungkin berubah bentuk menjadi kebodohan kanak-kanak, kegelisahan, atau penampilan, kebersihan, atau berlagak yang tak pantas.


Kelakuan Catatonic motor adalah bentuk ekstrim tingkah laku yang aneh pada penderita dimana penderita berdiam dengan postur kaku dan melawan untuk dipindahkan atau, lebih parah lagi, berdiam diri tanpa maksud dan gerak motornya tak terangsang.

Gejala defisit atau negatif Schizophrenia termasuk tidak terpengaruh, kemunduran ketrampilan berbicara, anhedonia, dan antisosial.

Tidak terpengaruh seperti emosi yang datar. Mimik penderita mungkin tak beremosi; kontak mata buruk dan kesulitan mengekspresikan perasaan. Peristiwa yang umumnya membuat orang tertawa atau menangis tak diresponnya.

Kemunduran ketrampilan berbicara sesuai dengan kemunduran pemikiran yang menyebabkan penurunan keterampilan berbicara. Jawaban terhadap pertanyaan mungkin ketus, satu dua kata, membuat kesan kekosongan dalam.

Anhedonia merujuk pada ketidakmampuan menikmati kesenangan; penderita mungkin kurang tertarik pada hobinya dan melewatkan lebih banyak waktu tanpa tujuan.

Asosial adalah kurangnya ketertarikan untuk berhubungan dengan orang lain.

Gejala-gejala negatif ini sering dihubungkan dengan kehilangan motivasi, pencapaian maksud, dan cita-cita.\


DIAGNOSA

Tidak ada pengujian untuk mendiagnosa Schizophrenia. Seorang psikiater membuat diagnosa berdasarkan penilaian menyeluruh terhadap sejarah dan gejala penderita.

Untuk memperkuat diagnosa Schizophrenia, gejala harus ada sedikitnya 6 bulan dan berhubungan dengan menurunnya kinerja, sekolah, atau fungsi sosial.

Informasi dari keluarga, teman, atau guru sangat penting untuk menentukan kapan mulai sakit. Dokter akan mengesampingkan kemungkinan bahwa gejala kegilaan penderita disebabkan oleh kekacauan perasaan.

Pengujian laboratorium sering dilakukan untuk mengesampingkan penyalahgunaan bahan atau obat, atau kerusakan sistem endokren yang dapat menimbulkan efek psikosis.

Contoh kerusakan seperti tumor otak, ayan cuping temporal, penyakit autoimune, penyakit Huntington’s, penyakit hati, dan reaksi berlawanan dari obat.

Orang dengan Schizophrenia mempunyai otak abnormal yang dapat dilihat melalui alat pemindai tomography (CT scan) atau magnetic resonance imaging(MRI).Tetapi, kekurangannya adalah tak spesifik untuk mendiagnosa sizofrenia pada pasien perseorangan.
PENGOBATAN

Tujuan umum pengobatan adalah mengurangi keparahan gejala kegilaan, mencegah kekambuhan dari masa timbulnya gejala dan hal-hal yang berkaitan dengan kemunduran fungsi, dan memberikan dukungan untuk mencapai taraf hidup yang terbaik.

Obat antipsikosis, aktivitas rehabilitasi dan komunitas pendukung, dan psikoterapi adalah tiga komponen utama dalam pengobatan.

Obat antipsikosis efektif untuk mengurangi dan menghilangkan gejala seperti delusi, halusinasi dan pikiran yang kacau. Setelah gejala akut telah hilang, pemberian obat antipsikosis yang terus menerus untuk menghilangkan gejala secara menyeluruh.

Sayangnya, antipsikosis mempunyai efek samping yang berat seperti sedasi, kekakuan otot, tremor dan berat badan meningkat. Obat ini juga dapat menyebabkan tardive dyskinesia, suatu kekacauan gerakan yang tak disengaja sering ditandai dengan mengerutkan bibir dan lidah atau menulis diatas tangan atau kaki. Tardive dyskinesia tak akan hilang walau obat dihentikan. Jika kasus ini terjadi tak ada pengobatan yang efektif.

Sekitar 75 persen penderita merespon obat antipsikosis utama, seperti chlorpromazine, fluphenazine, haloperidol, atau thioridazine. Setengah lebih dari 25 persen penderita dapat dibantu oleh obat antipsikosis baru clozapine.

Karena clozapine mempunyai efek samping seperti menyerang atau menekan fungsi sumsum tulang. Biasanya obat ini digunakan hanya pada penderita yang tidak berespon terhadap obat antipsikosis lainnya. Penderita yang meminum obat ini harus diperiksa kandungan sel darah putihnya setiap minggu.

Penelitian untuk mencari obat yang tidak mempunyai efek samping yang serius seperti clozapine dilakukan. Risperidone sekarang sudah tersedia.

Psikoterapi adalah aspek pengobatan lain yang penting. Pada umumnya, tujuan psikoterapi adalah untuk membangun hubungan kolaborasi antara pasien, keluarga dan dokter. Dengan demikian diharapkan penderita dapat belajar untuk memahami dan mengontrol penyakitnya, untuk minum obat sesuai resep dan mengatur stres yang dapat memperburuk penyakit.


PENCEGAHAN

Untuk waktu pendek (1 tahun), prognosis Schizophrenia berhubungan erat dengan bagaimana penderita menjalani pengobatan.

Tanpa pengobatan 70 hingga 80 persen penderita yang pernah menderita schizophrenia akan mengalami kekambuhan setelah 2 bulan berikutnya dari masa sakit yang lalu. Pemberian obat yang terus menerus dapat mengurangi tingkat kekambuhan hingga 30 persen.

Untuk jangka panjang, prognosis penderita schizophrenia bervariasi. Pada umumnya, sepertiga penderita mengalami kesembuhan yang berarti dan tetap, sepertiga pendeita mengalami sedikit perbaikan yang diselingi dengan kekambuhan dan sepertiga penderita kondisinya menjadi buruk dan permanen.

Faktor yang mempengaruhi prognosis yang baik meliputi mulai munculnya penyakit yang mendadak, menderita pada usia lanjut, mempunyai tingkat kemampuan yang baik dan berprestasi sebelum sakit, penyakit dengan jenis paranoid atau nondefisit.

Faktor yang mempengaruhi prognosis yang buruk meliputimenderita pada waktu muda, tingkat sosial dan kemampua yang rendah sebelum sakit, dari keluarga penderita schizophrenia, dan penyakit dengan jenis hebeprenic atau defisit.

10 persen kasus bunuh diri ada kaitannya dengan Schizophrenia . Rata-rata, schizophrenia mengurangi masa hidup penderita 10 tahun.
sumber



Sebuah minuman yang didesain khusus dan disebut dengan 'Tyrodep' ternyata sangat efektif digunakan sebagai pengobatan penyakit schizophrenia. Cairan kimia yang ada pada Tyrodep sangat tinggi kandungan asam amino yang berfungsi sebagai pengontrol cairan kimia yang ada pada otak.

Minuman 'Tyrodep' itu merupakan minuman yang didesain oleh para peneliti dari Oxford University dan sejumlah kalangan menyebut hasil penelitian ini merupakan sebuah terobosan penting. Diperkirakan satu juta orang di Inggris terkena schizophrenia dan kebanyakan dari mereka menggunakan obat antipsychotic untuk mengontrol dan mencoba mengobatinya.

Namun disadari bahwa penggunaan obat bisa menjadi penyebab dampak sampingan seperti penyakit Parkinson dan sejumlah gejala seperti rasa sakit dan kesulitan pergerakan secara permen pada mulut dan lidah. Bahkan dampak sampingan itu bisa mengurangi gairah sex. Tidak heran minuman ramuan khusus 'Tyrodep' disambut sangat baik dimana asam amino pada Tyrodep mampu mengurangi tingkat cairan kimia di otak yang disebut dengan `dopamine`.

Terlalu tingginya dopamine pada otak ini disebut-sebut sebagai penyebab sejumlah gejala kondisi maniak yang berujung pada Schizophrenia. Professor Guy Goodwin yang menjadi kepala tim peneliti dari Oxford University ini mengatakan Tyrodep dibuat dengan desain khusus yang bisa digunakan untuk lebih lanjut.

"Secara konvensional Antipsychotic bisa digunakan untuk mengelola penyakit mental seperti mania dan schizophrenia," ujar peneliti yang memperoleh dana penelitiannya dari the Wellcome Trust. "Meski dengan melakukan pengobatan konvensional itu bisa menyebabkan dampak sampingan."

Minuman Tyrodep yang kami kembangkan dan dilakukan dibawah pengawasan medis bisa digunakan untuk terapi lebih lanjut," tambah Guy Goodwin. "Tyrodep mungkin bisa diterima oleh kedua pihak, pasien dan tidak menimbulkan dampak sampingan."

Prof Goodwin mengatakan pengobatan konvensional antipsychotic beraksi untuk merusak produksi dopamine. Namun aksi itu bisa memicu timbulnya cairan kimia lain yang berusaha merusak sistem itu sendiri. Professor Goodwin menambahkan mungkin Tyrodep bisa digunakan dalam terapi Schizophrenia namun ia juga mengatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut agar bisa memberikan rekomendasi yang tepat untuk digunakan oleh pasien.

Marjorie Wallace, chief executive dari The mental health charity Sane optimis minuman Tyrodep bisa menguntungkan banyak penderita Schizophrenia. Kini profesor Goodwin dan para peneliti lainnya dari Oxford Universitu berharap bisa mengembangkan Tyrode secara massal dan menyebarkannya secara luas.

Salah satu timbulnya penyakit Schizophrenia menurut ahli dari Albert Einstein College of Medicine New York adalah kegagalan pada koneksi antar jaringan otak saat penderita masih kanak-kanak dan itu membuat ketidaknormalan seiring dengan makin meningkatnya usia. Bahkan disejumlah kasus schizophrenia tidak menunggu sang penderita sampai beranjak dewasa. (mydoc/tutut)

GANGGUAN DAN PENYAKIT KEJIWAAN

Manusia sebagai makhluk yang memiliki banyak keterbatasan kerapkali mengalami perasaan takut, cemas, sedih, bimbang, dan sebagainya. Dalam psikologi, gangguan atau penyakit kejiwaan akrab diistilahkan psikopatologi. Ada dua macam psikopatologi: (1) neurosis; dan (2) psikosis. Sementara dr. H. Tarmidzi membagi psikopatologi menjadi enam macam, selain dua yang telah tersebut, ia mengemukakan yang lainnya yaitu: psikosomatik, kelainan kepribadian, deviasi seksual, dan retardasi mental.

Neurosis adalah gangguan jiwa yang penderitanya masih menyadari atas kondisi dirinya yang tengah terganggu. Cirri-ciri neurosis ini antara lain: (1) wawasan yang tak lengkap mengenai sifat-sifat dan kesukarannya; (2) mengalami konflik batin; (3) menampakkan reaksi kecemasan; (4) adanya kerusakan parsial pada aspek-aspek kepribadian..

Neurosis dapat muncul dalam beberapa bentuk, diantaranya: (1) Neurasthenia, yaitu gangguan yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental yang kronis sekalipun tidak ditemukan sebab-sebab fisik; (2) Histeria, gangguan jiwa yang ditandai ketidakstabilan emosi, represi, disasosiasi, dan sugestibilitas. Hysteria ini bisa berwujud kelumpuhan atau cramp sebagian anggota badan, hilang kesanggupan bicara, hilang ingatan, kepribadian ganda, mengelana tidak sadar (fugue), atau berjalan-jalan dalam keadaan tidur (somnabulism); (3) Psychasthenia, gangguan jiwa yang ditandai ketidakmampuan diri tetap dalam keadaan integrasi yang normal. Jenis ini antara lain bisa tampil dalam bentuk phobia (takut yang tidak masuk akal), obsesi, dan kompulsi.

Neurosis terjadi bisa disebabkan oleh faktor-faktor organis fisis, faktor psikis dan struktur kepribadian, atau bisa juga karena faktor milieu atau lingkungan. Tetapi yang jelas, terganggunya mental dapat berpengaruh kepada perasaan, pikiran, kelakuan, dan juga kesehatan tubuh.

Sementara psikosis adalah penyakit kejiwaan yang parah, karena di tingkatan ini penderita tidak lagi sadar akan dirinya. Pada penderita psikosis umumnya ditemukan cirri-ciri sebagai berikut: (1) mengalami disorganisasi proses pikiran; (2) gangguan emosional; (3) disorientasi waktu, ruang, dan person; (4) terkadang disertai juga dengan halusinasi dan delusi.

Psikosis bisa muncul dalam beberapa bentuk, diantaranya: (1) Schizophrenia, yaitu penyakit jiwa yang ditandai dengan kemunduran atau kemurungan kepribadian; (2) Paranoia, yaitu gila kebesaran atau merasa lebih dari segalanya; dan (3) maniac depressive psychosis, yakni perasaan benar atau gembira yang mendadak bisa berubah sebaliknya menjadi serba salah atau sedih.

Dalam khazanah keislaman, dikenal beragam bentuk penyakit kejiwaan. Diantaranya telah dicatatkan oleh al-Ghazali, yaitu: riya’ (pamer), jidl (suka debat), khusumat (suka bermusuhan), kidzb (dusta), ghibbah (suka cari kesalahan orang), namimah (adu domba), ghadhab (pemarah), hasud (suka menghasut), hubbud-dunya (matre), bakhil (pelit), kibr (sombong), dan ghurur (lalai urusan akhirat karena urusan dunia).

Ditinjau dari perspektif al-Qur’an, psikopatologi ini timbul karena manusia tidak mau mempergunakan potensi jasmani maupun rohani yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya secara baik. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (al-A’raf, VII: 179).

Source:
Sururin. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.



-->




Manusia sebagai makhluk yang memiliki banyak keterbatasan kerapkali mengalami perasaan takut, cemas, sedih, bimbang, dan sebagainya. Dalam psikologi, gangguan atau penyakit kejiwaan akrab diistilahkan psikopatologi. Ada dua macam psikopatologi: (1) neurosis; dan (2) psikosis. Sementara dr. H. Tarmidzi membagi psikopatologi menjadi enam macam, selain dua yang telah tersebut, ia mengemukakan yang lainnya yaitu: psikosomatik, kelainan kepribadian, deviasi seksual, dan retardasi mental.


Neurosis adalah gangguan jiwa yang penderitanya masih menyadari atas kondisi dirinya yang tengah terganggu. Cirri-ciri neurosis ini antara lain: (1) wawasan yang tak lengkap mengenai sifat-sifat dan kesukarannya; (2) mengalami konflik batin; (3) menampakkan reaksi kecemasan; (4) adanya kerusakan parsial pada aspek-aspek kepribadian..







Neurosis dapat muncul dalam beberapa bentuk, diantaranya: (1) Neurasthenia, yaitu gangguan yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental yang kronis sekalipun tidak ditemukan sebab-sebab fisik; (2) Histeria, gangguan jiwa yang ditandai ketidakstabilan emosi, represi, disasosiasi, dan sugestibilitas. Hysteria ini bisa berwujud kelumpuhan atau cramp sebagian anggota badan, hilang kesanggupan bicara, hilang ingatan, kepribadian ganda, mengelana tidak sadar (fugue), atau berjalan-jalan dalam keadaan tidur (somnabulism); (3) Psychasthenia, gangguan jiwa yang ditandai ketidakmampuan diri tetap dalam keadaan integrasi yang normal. Jenis ini antara lain bisa tampil dalam bentuk phobia (takut yang tidak masuk akal), obsesi, dan kompulsi.







Neurosis terjadi bisa disebabkan oleh faktor-faktor organis fisis, faktor psikis dan struktur kepribadian, atau bisa juga karena faktor milieu atau lingkungan. Tetapi yang jelas, terganggunya mental dapat berpengaruh kepada perasaan, pikiran, kelakuan, dan juga kesehatan tubuh.







Sementara psikosis adalah penyakit kejiwaan yang parah, karena di tingkatan ini penderita tidak lagi sadar akan dirinya. Pada penderita psikosis umumnya ditemukan cirri-ciri sebagai berikut: (1) mengalami disorganisasi proses pikiran; (2) gangguan emosional; (3) disorientasi waktu, ruang, dan person; (4) terkadang disertai juga dengan halusinasi dan delusi.







Psikosis bisa muncul dalam beberapa bentuk, diantaranya: (1) Schizophrenia, yaitu penyakit jiwa yang ditandai dengan kemunduran atau kemurungan kepribadian; (2) Paranoia, yaitu gila kebesaran atau merasa lebih dari segalanya; dan (3) maniac depressive psychosis, yakni perasaan benar atau gembira yang mendadak bisa berubah sebaliknya menjadi serba salah atau sedih.







Dalam khazanah keislaman, dikenal beragam bentuk penyakit kejiwaan. Diantaranya telah dicatatkan oleh al-Ghazali, yaitu: riya’ (pamer), jidl (suka debat), khusumat (suka bermusuhan), kidzb (dusta), ghibbah (suka cari kesalahan orang), namimah (adu domba), ghadhab (pemarah), hasud (suka menghasut), hubbud-dunya (matre), bakhil (pelit), kibr (sombong), dan ghurur (lalai urusan akhirat karena urusan dunia).







Ditinjau dari perspektif al-Qur’an, psikopatologi ini timbul karena manusia tidak mau mempergunakan potensi jasmani maupun rohani yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya secara baik. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (al-A’raf, VII: 179).







Source:

Sururin. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.